Hujan turun sejak subuh, rintiknya mengetuk jendela kamar kos seperti ingin memastikan aku benar-benar bangun. Hari ini hari pertama Semester 6. Angka yang terdengar biasa saja, tapi entah kenapa terasa berbeda—lebih berat, lebih dekat pada garis akhir bernama skripsi dan dunia kerja.
Aku berdiri di depan cermin, menarik napas panjang. Di luar, langit kelabu menggantung rendah di atas kota kecil tempat kampusku berdiri. Payung hitam yang biasa kugunakan sudah menunggu di balik pintu, setia seperti semangat yang kadang redup, kadang menyala lagi.
Perjalanan ke kampus terasa lebih sunyi dari biasanya. Jalanan basah memantulkan lampu kendaraan dan langkah-langkah mahasiswa lain yang berlari kecil menghindari basah. Di gerbang kampus, spanduk bertuliskan “Selamat Datang di Semester Genap” berkibar diterpa angin, basah dan sedikit miring, seperti semangatku yang belum sepenuhnya tegak.
Gedung fakultas tampak lebih pucat di bawah hujan. Aku berhenti sejenak di tangga, memandangi halaman yang berubah menjadi cermin raksasa. Di sanalah, enam semester perjalananku seolah terputar kembali—masa adaptasi yang kikuk, tugas-tugas yang menumpuk, tawa bersama teman, juga tangis diam-diam saat nilai tak sesuai harapan.
“Mulai lagi ya,” gumamku pelan.
Di kelas pertama, aroma buku baru dan kertas fotokopian bercampur dengan bau tanah basah yang terbawa dari luar. Dosen membuka perkuliahan dengan kalimat yang sederhana namun menggetarkan, “Semester ini akan menentukan arah kalian setelah lulus.”
Kata-kata itu jatuh seperti hujan di atap seng—berisik, tak bisa diabaikan.
Aku menatap layar laptop, membuka folder kosong yang sudah kuberi nama “Skripsi”. Kosong, tapi penuh kemungkinan. Di luar, hujan belum reda. Namun anehnya, aku tidak lagi merasa muram. Hujan hari ini bukan tentang kesedihan, melainkan tentang permulaan. Ia membasuh sisa ragu, menyiram benih keberanian yang diam-diam sudah tumbuh.
Saat jam istirahat, aku dan teman-teman berdiri di koridor, menatap halaman yang masih diguyur. Kami tertawa membicarakan target semester ini—magang, penelitian, IPK, bahkan rencana setelah wisuda. Tawa itu hangat, menandingi dinginnya angin.
Di tengah suara hujan, aku sadar sesuatu: mungkin memulai Semester 6 dengan hujan adalah pertanda baik. Seperti tanah yang harus basah sebelum ditanami, mungkin aku juga perlu diguyur kegelisahan sebelum benar-benar bertumbuh.
Ketika sore tiba dan hujan mulai reda, cahaya matahari menembus celah awan, tipis tapi cukup untuk membuat langit tampak lebih cerah. Aku melangkah keluar gerbang kampus dengan perasaan yang berbeda dari pagi tadi.
Semester 6 memang dimulai dengan hujan.
Tapi aku tahu, tidak semua yang basah berarti tenggelam.
Beberapa justru sedang disiapkan untuk tumbuh.
Comments
Post a Comment